Tekanan osmosis pada telur asin




TEKANAN OSMOSIS DALAM PEMBUATAN TELUR ASIN

Guru Pembimbing :
Ibu Hj. Istiqomah. S.Pd

Nama Kelompok :

1.  Ardian Masrur Rifqy               (03)

2.  Bella Ayu Naura                      (05)

3.  Muharromi Rahayu                 (18)

 4.  M. Noor Khafid Muzakky       (17)
             5.  Siti Nur Azizah                       (27)




KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas petunjuknya kami dapat menyelesaikan laporan praktikum sesuai dengan tugas yang diamanahkan kepada kami, sehingga laporan ini dapat terselesaikan secara tuntas. Dan tentunya dengan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan ini  pada waktunya.
 Shalawat beriring salam tak puas-puasnya kita kirimkan kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad SAW, karena hanya dengan petunjuknya dan segala usaha upaya beliau, kita dapat rasakan kehidupan yang berbudaya, beraturan dan menjadikan kita makhluk yang lebih mulia dihadapan Tuhan.
Harapan saya semoga laporan praktikum dengan judul “PEMBUATAN TELUR ASIN” ini membantu saya dalam panunjang penilaian dalam mata pelajaran Kimia ini, agar menjadi lebih baik.
Laporan praktikum ini saya akui masih banyak kekurangan. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para guru, dan teman sekalian untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan laporan ini, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi laporan ini, sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Wassalamualaikum Wr.Wb

                                                                        Gresik, 1 November 2016



Penulis


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Telur asin adalah istilah umum untuk masakan berbahan dasar telur yang diawetkan dengan cara diasinkan (diberikan garam berlebih untuk menonaktifkan enzim perombak). Kebanyakan telur yang diasinkan adalah telur itik, meski tidak menutup kemungkinan untuk telur-telur yang lain yang diolah menjadi telur asin. Telur asin baik dikonsumsi dalam waktu satu bulan (30 hari).
Di Indonesia, terutama di pulau Jawa telur asin biasanya diproduksi dash telur bebek pelari (Anas platyrhynchos domesticus) yang memiliki ciri khas cangkang telur yang berwarna hijau-kebiruan.
Panganan ini bersifat praktis dan dapat dipadukan dengan berbagai masakan misalnya nasi jamblang, dan nasi lengko, bahkan dapat pula dimakan tanpa nasi. Nelayan yang melaut atau orang yang bepergian untuk waktu lama biasa membawa telur asin untuk bekal.
Di Jawa Tengah, daerah Brebes dikenal sebagai penghasil utama telur asin. Industri telur asin di Brebes cukup meluas hingga tersedia berbagai pilihan kualitas telur asin. Masing-masing produsen memiliki cap sendiri-sendiri yang biasanya dapat dilihat pada kulit telur. Walaupun selera orang berbeda-beda, telur asin yang dinilai berkualitas tinggi memiliki ciri-ciri bagian kuning telur berwarna jingga terang hingga kemerahan, "kering" (jika digigit tidak mengeluarkan cairan), tidak menimbulkan bau amis, dan rasa asin tidak menyengat.
Pada bab sel ini kami melakukan praktek pembuatan telur asin. Namun kali ini telur asin yang kami buat merupakan telur asin rasa pedas.

B.     Rumusan Masalah
1.          Bagaimana proses pembuatan telur asin ?
2.          Apakah semua jenis telur dapat menjadi asin selama proses pengasinan telur ?

C.    Tujuan
1.         Mengetahui proses pembuatan telur asin
2.         Mengetahui bahwa jenis jenis telur yang dapat dibuat menjadi telur asin

D.    Manfaat
Dengan melakukan praktikum ini, diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan siswa mengenai pembuatan telur asin.

E.     Variabel
Ø  Variabel Terikat                      : Telur asin
Ø  Variabel Bebas                        : Batu bata, dan Garam kasar




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dasar teori

Pengasinan telur umumnya dilakukan dengan dua cara, yaitu perendaman dalam larutan garam dan pemeraman oleh adonan campuran garam dengan tanah liat, atau abu gosok atau bubuk bata merah. Disini saya menggunakan teknik perendaman dalam larutan garam. Prinsip kedua cara tersebut adalah dehidrasi osmosis, yaitu proses pengurangan air dari bahan dengan cara membenamkan      bahan   dalam suatu     larutan berkonsentrasi tinggi, larutan tersebut mempunyai  tekanan osmosis tinggi. Dehidrasi osmosis merupakan proses perpindahan massa secara simultan antara keluarnya air dari bahan dan zat terlarut berpindah dari larutan ke dalam bahan. Perpindahan massa osmosis dinyatakan sebagai kehilangan air dan penambahan padatan. Aplikasi dehidrasi osmosis dalam proses pengasinan, terlihat dengan keluarnya air dari dalam telur bersamaan dengan masuknya larutan garam ke dalam telur.
Garam (NaCl) akan masuk ke dalam telur dengan cara merembes melalui pori-pori kulit, menuju ke bagian putih, dan akhirnya ke kuning telur. Garam NaCl mula-mula akan diubah menjadi ion natrium (Na+) dan ion chlor (Cl-). Ion chlor inilah yang sebenarnya berfungsi sebagai bahan pengawet, dengan menghambat pertumbuhan mikroba pada telur. Makin lama dibungkus dengan adonan, makin banyak garam yang merembes masuk ke dalamnya, sehingga telur menjadi semakin awet dan asin. Lamanya telur dibungkus adonan ini harus disesuaikan dengan selera masyarakat yang akan mengonsumsinya.
Pada proses pembuatan telur asin terjadi pertukaran ion yang bersifat stokiometri, yakni satu H+ diganti oleh suatu Na+.  Pertukaran ion adalah suatu proses kesetimbangan dan jarang berlangsung lengkap. Ion Na didapatkan dari garam sedangkan ion H+ berasal dari air . Dengan demikian, ion Na masuk kedalam telur dan kadar air berkurang, akibatnya telur menjadi asin.


B.     Tempat praktikum
Di sekolahan 

C.    Waktu praktikum
Hari minggu, 9 Oktober 2016, pukul 10:00 – Selesai 

D.    Alat dan bahan
Ø  Alat :
ü  Baskom berukuran sedang
ü  Kain lap
ü  Palu
Ø  Bahan
ü  Telur bebek                             : 2 telur
ü  Telur ayam kampung   : 2 telur
ü  Telur horn                                : 2 telur
ü  Telur puyuh                 : 2 telur
ü  Gram dapur kasar                    : 1,5 kg
  ü   Batu bata                                 : 2 bata
  ü   Air                   


E.     Cara Kerja

·         Siapkan 2 telur bebek, 2 telur ayam kampung, 2 telur horn, 2 telur puyuh pilihlah telur yang dalam kodisi baik dan tidak retak.
·         Cuci telur tersebut hingga bersih
·         Siapkan 2 bata batu bata lalu haluskan menggunakan palu hingga halus
·         Masukkan bata yang sudah halus tersebut kedalam baskom kemudian beri garam dan air sedikit sedikit sambil diaduk hingga merata.
·         Setelah tercampur rata pisah menjadi dua bagian adonan
·         Bagian pertama adonan batu ditaruh di bagian bawah kemudian taruh telurnya kemudian adonan kedua dituangkan perlahan – lahan diatas telur hingga telur tertutupi adonan hingga tertutup rata.
·         Tunggu sampai kira – kira 1 minggu masa pengasinan.
·         Setelah 1 minggu telur diambil dari adonan batu bata + garam.
·         Lalu bersihkan telur dari adonan yang masih menempel pada telur hingga bersih.

F.     Hasil Praktikum

No
Jenis Telur
Warna kuning telur
Rasa
Tekstur
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
Sebelum
Sesudah
1.
Telur bebek
kuning
Kuning tua
Seperti pada umumnya
Asin +++
Seperti pada umumnya
Padat dan kuningnya memasir
2.
Telur ayam kampung
Kuning
Kuning
Seperti pada umumnya
Asin+
Seperti pada umumnya
Lembut, kuningnya sedikit memasir
3.
Telur horn
Kuning
kuning
Seperti pada umumnya
Asin++
Seperti pada umumnya
Padat, kuningnya sedikit memasir
4.
Telur puyuh
kuning
Kuning tua
Seperti pada umumnya
Asin +++
Seperti pada umumnya
Padat, dan kuningnya memasir

Ø  Asin +                = Sedikit asin
Ø  Asin ++              = Asin sedang
Ø  Asin +++            = Sangat asin



G.    Analisis Data

Semakin tebal cangkang telur tersebut maka kadara keasinan semakin sedikit contoh pada telur ayam kampung yang cangkangnya paling tebal dari pada telur bebek, puyuh, dan horn memiliki keasinan yang sedikit sedangkan telur puyuh yang memiliki cangkang lebih tipis dari pada telur yang lain memiliki rasa sangat asin.
Keasinan juga dipengaruhi dari lamanya perendaman dalam adonan semakin lama telur direndam dalam adonan maka semakin asin telurnya.
Keasinan juga dipengaruhi dari jumlah garam yang dipakai semakin banyak garam maka semakin asin bahkan kalau asin sekali biasanya rasanya sampai pahit.
Keasinan juga dipengaruhi dari tebalnya adonan yang menutupi telu semakin tebal maka semakin cepat dan semakin asin telurnya.



BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan

1.    Proses pengasinan telur bertujuan agar membuat telur menjadi lebih awet.
2.      Proses masuknya garam ke dalam telur berlangsung secara dehidrasi osmosis, ion Na di dapatkan dari garam, sedangkan ion H+ berasal dari air, dengan demikian, ion Na masuk ke dalam telur dan kadar air berkurang, akibatnya telur menjadi asin.
3.      Tingkat asin pada telur dipengaruhi oleh faktor waktu, ketebalan pasta, jumlah garam, ketebalan cangkang telur, dan juga perbandingan antara pecahan batu bata dan tanah pada waktu pembuatan pasta.

B.     Saran

1.  Sebaiknya dalam kegiatan praktek, peserta lebih berhati-hati saat membawa dan meletakkan telur agar tidak pecah atau retak.
2.      Sebaiknya dalam kegiatan praktek, peserta lebih berkerja sama dan tidak menyepelekan.
3.      Sebaiknya dalam kegiatan praktek, lebih memperhatikan takaran dan proses pembuatan agar hasilnya baik.
4.      Sebaiknya dalam kegiatan praktek, lebih memperhatikan kondisi bahan terutama telur. Jika kondisinya tidak baik, lebih baik tidak dipakai.
























Komentar

Postingan Populer